Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Agustus 2018

BAHAYA ANGIN DUDUK

# A N G I N  D U D U K.

Pada suatu ketika dimana "Nabi Allah Sulaiman a.s" duduk di Singgasana,
maka datang 'satu Angin' yang cukup besar, maka bertanya "Nabi Allah Sulaiman" : "Siapakah engkau. . . ??

Maka dijawab oleh Angin tersebut : "Akulah 'Angin Rihul Ahmar' dan Aku bila memasuki Rongga Anak Adam, maka Lumpuh, keluar Darah dari Rongga Hidung dan apabila aku memasuki Otak Anak Adam, maka menjadi Gilalah Anak Adam. . ."

Maka diperintahkan oleh "Nabi Sulaiman a.s", supaya membakar Angin tersebut, maka berkatalah, 'Rihul Ahmar' kepada "Nabi Sulaiman a.s" bahwa :
"Aku Kekal sampai hari Kiamat tiba, tiada Sesiapa yang dapat membinasakan Aku melainkan Allah SW T."

Lalu 'Rihul Ahmar' pun menghilang.

Diriwayatkan bahwa : Cucu "Nabi Muhammad SAW", terkena *'Rihul Ahmar'*sehingga keluar Darah dari Rongga Hidungnya.

Maka datang Malaikat Jibril kepada "Nabi SAW" dan bertanyalah "Nabi" kepada Jibril.

Maka menghilang sebentar, lalu Malaikat Jibril kembali mengajari akan 'Do'a Rihul Ahmar' kepada "Nabi SAW", kemudian
dibaca 'Do'a' tersebut kepada Cucunya dan dengan sekejap Cucu Rasulullah sembuh dengan serta merta.

Lalu "Nabi SAW" bersabda :
"Bahwa barangsiapa membaca 'Do'a Stroke / Do'a Rihul Ahmar', walaupun sekali dalam seumur hidupnya, maka akan dijauhkan dari Penyakit 'ANGIN AHMAR atau STROKE'."

Do'a agar dijauhkan/terhindar dari 'Angin Ahmar dan Penyakit Kronis', sbb. :

اللهم إني أعوذبك من الريح الأحمر والدم الأسود والداء الأكبر

"Allohumma innii a'uudzubika minar riihil ahmar, wad damil aswad, wad daail Akbar."

Artinya :

"Yaa Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari Angin Merah dan dari Darah Hitam (stroke) dan dari Penyakit Berat."

'Riihul Ahmar' biasa masuk pada saat seseorang Tidur Bakda Ashar hingga waktu Isya'.

Maka hindarilah tidur diwaktu itu Sekantuk / Secapek apapun. . . silahkan dirasakan sendiri perbedaan tidur tengah hari (siang), Bakda Ashar & malam hari pada saat bangun dari tidur waktu² tsb.

Teruskanlah informasi ini ke Group Keluarga, Sahabat kita yang kita sayang, agar kita semua  terhindar dari 'STROKE'.
Insya' Allah. . .

Semoga kita senantiasa dalam Balutan Sehat Wal A'fiat. . . !!!

Aamiin Yaa Rabbal'alamiin.

Jumat, 10 Agustus 2018

KISAH PANGERAN DIPONEGORO DAN PENDAMPING MISTIKNYA


SOSOKNYA agak samar tersaput tinta merah dalam lukisan koleksi Snouck Hurgronje, yang tersimpan di Universitas Leiden dengan codex 7398. Lukisan itu menggambarkan aktivitas Diponegoro beserta keluarganya di dalam benteng di Makassar (1833-1855). Dia sosok yang berdiri dekat Diponegoro, membantunya mengajarkan teks mistik Islam kepada putranya, Pangeran Ali Basah. Sosok yang tampil dengan figur berbeda: cebol, buncit, dan tak berbusana, itu adalah Banthengwareng. Banthengwareng (1810-1858) adalah pengiring (panakawan) Diponegoro yang paling setia. Dalam Babad Diponegoro (Manado) pada XXXVIII pupuh (mijil) 150, Banthengwareng disebut sebagai lare bajang, anak muda yang nakal dan bertubuh cebol. Menurut sejarawan Peter Carey, Banthengwareng kemungkinan turut dalam rombongan saat Diponegoro mendirikan markas besar pertama pada masa Perang Jawa, di Selarong, pengujung Juli 1825.Dia bergabung dengan pengiring lainnya: Sahiman alias Rujakbeling, Kasimun alias Wangsadikrama, Teplak alias Fikpak atau Rujakgadhung, dan Joyosuroto atau Roto. (Baca: Roto, Jenaka Pengiring Diponegoro dan riwayat abdi pengiring (palawija) raja Jawa di majalah Historia No. 20 Tahun II 2014). Sebagai pendamping yang paling intim, Banthengwareng bersama panakawan lainnya “memiliki gabungan peran; abdi pengiring, guru, penasihat, peramu obat, pembanyol, dan penafsir mimpi.” Di Selarong, Diponegoro semakin mempertebal mistik dan agamanya dengan berdiam diri di gua.Willem Andrian van Rees (1820-1898), perwira Belanda, melaporkan bahwa Diponegoro kerap ditemani pengikutnya yang paling intim (panakawan). Mereka tinggal di dalam gua, Guwo Secang, yang memiliki dapur. Para pengiring bertugas menyiapkan makan dan menemaninya selama puasa. Peran Banthengwareng sebagai pengiring yang setia mulai kentara, saat dirinya bersama Roto mendampingi Diponegoro, setelah lolos dari sergapan pasukan gerak cepat ke-11 di bawah komando A.V. Michiels, di wilayah pegunungan Gowong, sebelah barat Kedu, pada 11 November 1829.Diponegoro memutuskan berkelana masuk ke hutan-hutan wilayah barat Bagelen dengan hanya ditemani Banthengwareng dan Roto.
Keadaan yang serba sulit itu dilukiskan dengan rinci oleh sejarawan militer Belanda, George Nypels dalam De Oorlog in Midden-Java van 1825 tot 1830, bahwa Diponegoro bersama dua pengiringnya dalam keadaan serba kekurangan. Sering tidak mempunyai tempat berteduh dan tak cukup makanan. Diponegoro menderita luka di kakinya dan “mengidap sakit malaria yang membuat fisiknya sangat lemah,” tulis Nypels. Catatan militer Belanda lainnya, Pieter J.F. Louw dan Eduard Servaas de Klerck dalam De Java-Oorlog van 1825-1830, menyebutkan bahwa Diponegoro berjalan terseret-seret karena kelelahan dan serangan malaria di sepanjang jalan setapak ke gubuk-gubuk petani. Di situ dia bersembunyi selama lebih dari tiga bulan, antara pertengahan November 1829 sampai pertengahan Februari 1830. Mereka menanggung derita itu dengan tabah hingga 9 Februari 1830, saat negosiasi Diponegoro dengan Kolonel Clerens dimulai. Ketika terjadi pertemuan yang berujung penangkapan Diponegoro pada 28 Maret 1830, Banthengwareng dan Roto hadir menunggu di halaman rumah residen Kedu. Kedua pengiring itu menemani di tiap jengkal perjalanan pengasingan Diponegoro (28 Maret-12 Juni 1830). Mereka hidup bersama Diponegoro dan keluarganya di tempat pembuangan, sekira tiga tahun di Manado. Pada 1839, Roto, terpaksa berpisah karena bergabung dengan Kiai Mojo ke Tondano, Sulawesi utara. Hanya Banthengwareng yang setia menemani Diponegoro ke Makassar, hingga akhir hayatnya. “Banthengwareng seringkali mengajar anak-anak Diponegoro selama berada di Makassar,” ungkap Peter Carey. Dia begitu dekat dengan Diponegoro bak keluarga sendiri. Banthengwareng memenuhi sumpah setianya hingga mati (teguh pati) untuk mengiringi dan mendampingi Diponegoro. Setelah Diponegoro wafat pada 8 Januari 1855, dua tahun kemudian Banthengwareng meninggal dan dikebumikan di Kampung Melayu, Makassar, di areal pemakaman Diponegoro. Makamnya berukuran laiknya bayi berumur enam tahun. Pusaranya dibelah dinding pemisah areal pemakaman keluarga Pangeran Diponegoro; setengah makamnya berada di areal pemakaman keluarga, setengah lagi berada di luar areal. ”Ini menandakan bahwa Banthengwareng dianggap sebagai bagian dari keluarga Diponegoro, walaupun dia berasal dari kalangan bawah,” ujar Peter Carey